
JEMBRANA – Dalam upaya menekan krisis sampah sekaligus menciptakan peluang ekonomi kreatif berbasis lingkungan, MAN 1 Jembrana antusias mengikuti pelatihan budidaya maggot _Black Soldier Fly_ (BSF) skala massal. Acara ini berlangsung pada hari Minggu, tanggal 24 Mei 2026. Acara yang diselenggarakan oleh Program Studi Budidaya Ikan Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana ini adalah bentuk dedikasi akademis dalam mengedukasi masyarakat mengenai teknologi biokonversi.
Guna menyerap ilmu secara optimal, MAN 1 Jembrana mengirimkan tiga orang perwakilan strategis yang terdiri atas pengelola asrama, pengelola ekonomi kreatif, dan pengelola kantin sekolah. Langkah ini diambil karena dinilai sangat selaras dengan program madrasah yang tengah gencar menggalakkan upaya pemilahan sampah. Sinergi antara kebijakan pemilahan sampah di sekolah dan teknologi budidaya maggot ini diharapkan mampu menuntaskan masalah limbah makanan yang dihasilkan oleh kantin dan asrama secara mandiri.
Dalam pemaparan materi, tim instruktur dari Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana memperkenalkan lalat BSF (_Hermetia illucens_) sebagai agen biologis pengurai yang sangat aman dan higienis. Lalat dewasa ini bukan merupakan vektor penyakit. Fase larvanya atau yang dikenal sebagai maggot, justru menjadi pengurai yang luar biasa. Melalui prinsip _zero waste_, 1 kg sampah organik mampu dikonversi hingga menjadi 200 gram oleh maggot dalam waktu singkat.
Selama pelatihan, utusan dari MAN 1 Jembrana dipandu secara langsung melalui empat tahapan teknis budidaya yang sistematis. Proses dimulai dari tahap persiapan media menggunakan ampas tahu dan dedak, tahap penetasan telur (3 – 4 hari), tahap pembesaran melalui pemberian pakan sampah organik (15 – 20 hari), hingga tahap pemanenan. Mereka juga diberi edukasj pada pentingnya manajemen siklus hidup BSF selama 40 – 45 hari untuk menjaga ketersediaan stok telur harian agar produksi skala massal berjalan berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, perwakilan MAN 1 Jembrana berkomitmen untuk segera mengimplementasikan infrastruktur budidaya maggot di lingkungan sekolah. Langkah nyata ini diproyeksikan dapat menjadi pelopor kemandirian pakan lokal, menyukseskan program pemilahan sampah sekolah, sekaligus menjadi solusi nyata dalam mewujudkan ekosistem madrasah yang bersih dan bebas sampah organik.
Kontributor: Yanuar Awwaliyah
Penulis: Roihan Sabila Rozak
Redaktur: Ike Prasetyaningrum/Titan Ratih Bestari
